Ketegangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran kian memanas dan memicu kekhawatiran serius di tingkat global. Para analis memperingatkan, jika perang terus berlanjut dalam dua minggu ke depan, dunia berpotensi menghadapi krisis energi besar-besaran yang dampaknya meluas ke berbagai sektor ekonomi.
Salah satu titik krusial dari krisis ini adalah terganggunya jalur distribusi energi global di Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut selama ini menjadi urat nadi perdagangan energi dunia, dilalui sekitar 20–30 persen pasokan minyak global. Gangguan di wilayah ini secara langsung menghambat distribusi minyak dan gas ke berbagai negara.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa penutupan atau pembatasan akses di Selat Hormuz telah menyebabkan penurunan drastis arus energi global. Bahkan, kondisi ini disebut sebagai salah satu gangguan terbesar dalam sejarah pasar energi, dengan risiko terganggunya hingga 30 persen pasokan minyak dan 20 persen gas alam cair dunia.
Dampak langsung dari situasi ini adalah lonjakan harga energi yang signifikan. Harga minyak dunia melonjak tajam akibat berkurangnya pasokan, sementara biaya logistik dan distribusi ikut meningkat. Dalam skenario terburuk, harga minyak bahkan diperkirakan bisa menembus lebih dari 150 dolar AS per barel jika konflik terus bereskalasi.
Kenaikan harga energi tersebut berpotensi memicu efek domino terhadap perekonomian global. Inflasi diperkirakan meningkat tajam, biaya produksi melonjak, dan daya beli masyarakat menurun. Negara-negara berkembang serta importir energi menjadi pihak yang paling rentan terdampak.
Selain itu, gangguan rantai pasok global juga mulai terasa. Aktivitas pelayaran internasional terganggu, distribusi barang melambat, dan biaya asuransi pengiriman meningkat akibat tingginya risiko konflik di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini berpotensi memperparah ketidakstabilan ekonomi dunia.
Para ekonom menilai, jika konflik tidak segera mereda, dunia tidak hanya akan menghadapi krisis energi, tetapi juga ancaman resesi global. Bahkan, skenario ekstrem menunjukkan potensi terjadinya stagnasi ekonomi berkepanjangan akibat tekanan simultan dari sisi energi dan perdagangan internasional.
Dengan demikian, kelanjutan perang AS–Iran dalam waktu dekat akan menjadi faktor penentu arah ekonomi global. Tanpa upaya deeskalasi yang cepat, dunia berisiko memasuki fase krisis energi besar yang dapat memengaruhi kehidupan masyarakat secara luas-mulai dari harga bahan bakar hingga kebutuhan pokok sehari-hari.